Berita terbaru Pentingnya Berbaik Sangka Kepada Sesama Muslim - SD IT Nurul Jannah

Ads Right Header

Dlpro Wordpress Theme

Pentingnya Berbaik Sangka Kepada Sesama Muslim

Pentingnya Berbaik Sangka Kepada Sesama Muslim - Assalamu'alaikum sahabat SD IT Nurul Jannah, yang kami hormati. Pada Artikel kali ini yang berjudul Pentingnya Berbaik Sangka Kepada Sesama Muslim, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan sebaik-baiknya untuk anda baca, dengan bahasa yanng mudah di mengerti dan semoga nanti bisa diambil informasi yang baik didalamnya.

Namun sebelum Anda membaca dan menonton video serta mendownload semua file, format atau materi yang ada di blog SD IT Nurul Jannah ini, ada baiknya anda membaca duhulu postingan secara menyeluruh (biasakanlah membaca literasi) sehingga nanti tidak gagal faham yang mengakibatkan anda mengalami kendala dalam hal mengambil isi dari semua materi yang di inginkan oleh Anda sebagai pengunjung Blog SD IT Nurul Jannah ini. Selain itu admin ingin partisipasinya anda dalam memberikan kritik, saran maupun komentar di tempat yang telah kami sediakan pada kolom komentar atau kolom kontak kami.

Mudah-mudahan isi postingan di dalam kategori Pendidikan yang kami tulis ini dapat bermanfaat buat pengunjung blog ini. baiklah, selamat membaca.

Berbaik sangka (husnudzan) merupakan cerminan kebersihan hati . Salah satu bentuk kebersihan hati seorang muslim adalah dalam hubungannya dengan sesama manusia, terlebih lagi dengan sesama muslim agar dapat menjalin ukhuwah Islamiyah .

Dengan berbaik sangka inilah pintu-pintu kebaikan akan terbuka lebar di hadapan kita. Maka apabila seorang muslim mendengar berita bahwa saudaranya sesama muslim melakukan keburukan misalnya, maka hendaklah ia menyikapinya dengan arif. Yaitu dengan memberi seribu kemungkinan atau alasan mengapa ia sampai melakukan keburukan tersebut. Sebaliknya, jika berita tentang saudaranya itu adalah suatu kebaikan, maka hendaklah ia bahagia karenanya serta mengartikan kebaikan itu dengan kebaikan pula.

Dinukil dari ceramah Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary, Lc, MA di laman dakwah onlinenya, ia mengatakan seperti itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika terjadi fitnah yang menerpa diri ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu hingga tuduhan itu menodai rumah tangga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Nabi Shallallahu alaihi sallam ditanya: “Bagaimana pandanganmu tentang keluargamu (yaitu istrimu) maka Nabi berkata kepada kaum muslimin:

وَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي إِلاَّ خَيْرًا

“Demi Allah, aku tidak tahu tentang keluargaku selain kebaikan.”

Jadi di tengah-tengah fitnah yang menerpa ‘Aisyah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengedepankan husnudzan, tidak mengedepankan perasaan atau cemburu atau yang lainnya. Tapi beliau mengedepankan husnudzan kepada seorang muslim, siapapun itu, keluarga kita ataupun orang lain.

Menurut dai yang menulis buku "Mencetak Generasi Rabbani" ini, seorang mukmin harus menghindari lawan dari husnudzan, yaitu adalah su’udzan (berburuk sangka). Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman agar membersihkan hati mereka dari sifat yang bisa membawa dosa ini, yaitu su’udzan kepada saudara kita sesama muslim.

Allah mengatakan dalam surat Al-Hujarat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka (y aitu prasangka-prasangka buruk), sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa (salah). Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu akan merasa jijik dengannya. Dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita mengikuti prasangka, karena prasangka itu banyak melahirkan dosa. Mungkin dalam kenyataan hidup sehari-hari kita sering berprasangka buruk terhadap saudara kita atau satu berita yang sampai kepada kita tentangnya. Lalu kita berprasangka buruk terhadap saudara kita itu.

Karena itu, Ustadz Abu Ihsan mengingatkan, kita harus bijak terhadap berita-berita yang sampai kepada kita. Jangan kita langsung menjatuhkan suatu ketentuan hukum atas berita yang kita dengar tentang saudara kita yang boleh jadi nantinya tidak seperti yang kita katakan itu, sehingga kita menyesalinya.

Maka bijaklah kita di dalam menerima berita dan bijak jugalah kita di dalam menyampaikan berita. Batasilah aktivitas kita di media sosial karena itu banyak mendatangkan keburukan-keburukan.

Yang sangat menyedihkan, hari ini sedikit orang yang selamat dari hal tersebut. Maka kita harus berhati-hati di dalam bab ini. Jangan sampai kita merusak dan merobek kehormatan orang lain. Seperti yang Allah katakan bahwa ghibah itu seperti kamu memakan daging bangkai saudaramu.

Penulis: Widaningsih
Previous article
Next article

Belum ada Komentar

Posting Komentar

SD Islam Terpadu Nurul Jannah, Mandiri, Cerdas dan Berakhlak Mulia.

Ads Post 1

Wpberita Wordpress Theme

Ads Post 2

Tema WordPress Berita

Ads Post 3

Wpberita Wordpress Theme

dobelhost