Headlines
Loading...
Barang Impor dan Gaya Hidup Mewah

Barang Impor dan Gaya Hidup Mewah

SDIT.XYZ - Barang Impor dan Gaya Hidup Mewah atau Gaya Hidup Glamor, gaya hidup yang selalu berorientasi kepada budaya barat tanpa diseleksi terlebih dahulu disebut gaya hidup konsumtif,gaya hidup yang diliputi kemewahan pergaulan bebas dan dekadensi moral merupakan dampak dari gaya hidup seseorang yang selalu berorientasi kepada materi.

Barang Impor dan Gaya Hidup Mewah

Kita Mengakui sering mendengar, mengajukan banding, baik dari para ahli maupun pejabat terkait untuk tidak membeli barang-barang mewah dari luar negeri. Alasan utama adalah penghematan valuta asing.

gaya hidup yang selalu berorientasi kepada budaya barat tanpa diseleksi terlebih dahulu disebut gaya hidup konsumtif,gaya hidup yang diliputi kemewahan pergaulan bebas dan dekadensi moral merupakan dampak dari gaya hidup seseorang yang selalu berorientasi kepada materi.

Stop membeli barang-barang impor, kurang lebih sama dengan menghentikan laju kenaikan dolar. Jadi tidak perlu ditanggapi secara sinis, ketika ada banding seperti itu. Sebaliknya, itu harus didukung dengan membeli produk domestik.

Apalagi membeli barang-barang mewah, tentu saja lebih banyak pemborosan valuta asing. Beli Tas Hermes, beli Sepde Tronton, Ferari Car, dan sejenisnya adalah contoh item berharga Lux yang berkontribusi valuta asing.

Membeli barang mewah berarti membeli kesan (mewah). Tidak harus dalam hal manfaat (nilai praktis) memberikan nilai tambah. Berbeda dengan kasus jika kita mengimpor item yang memang tidak dapat dihindari, karena itu adalah kebutuhan dasar, seperti kedelai, suku cadang mesin, dan semacamnya. Itu memang tidak dapat dihindari.

Meskipun harga kedelai mahal masih dibeli, seperti yang terjadi beberapa kali di negara kita. Karena komoditas dibawa dari negara Paman Sam, jika dolar naik, harga kedelai dan derivatif naik.

Tidak dapat dinegosiasikan, warga masih membelinya, karena tahu dan tempe telah menjadi konsumsi sehari-hari bagi mayoritas orang Indonesia. Itulah nasib bangsa yang tidak mandiri dalam makanan, seperti Indonesia. Meskipun sangat jarang ada negara-negara yang benar-benar mandiri dalam segala hal.

Tapi mungkin sedikit yang perlu kita pelajari dari Turki beberapa kali mengalami kondisi mata uang lira, yang jauh lebih buruk. Di mana Turki dapat mengatasinya dengan menghentikan pembelian barang impor. Maka juga dengan membuat gerakan bersama untuk melepaskan dolar. Dan terbukti efektif dalam menyelamatkan negara mereka.

Di sini bisa juga berlaku pameo, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa berhemat. Ada prinsip yang menyatakan bahwa lebih baik mengendalikan apa yang bisa kita kontrol di dalam negeri dari pada berharap perbaikan kondisi dari luar. Satu-satunya yang bisa kendalikan adalah bagaimana masyarakat bijak dalam membelanjakan uang mereka.

Gaya hidup hemat kuncinya. Jangan terjebak dengan cara hidup konsumtif. Dan jangan sampai terjebak masuk kedalam cara hidup konsumerisme global. Dahulukan aspek manfaat dan fungsionalnya, dari pada aspek kesan mewahnya.

Gaya hidup dan perilaku konsumtif ini dipicu iklan penggoda iman yang marak di dunia maya maupun pergaulannya dengan teman-temannya yang strata sosialnya lebih tinggi. Dan faktor lemah iman dan kurangnya rasa bersyukur atas segala pemberian suami menyebabkan wanita atau para istri senantiasa kurang menghargai jerih payah suami.

SD IT Nurul Jannah, adalah sekolah dasar berbasis islam yang merangkum antara pendidikan formal atau umum dengan pendidikan agama secara menyeluruh, sehingga harapan kami nanti, mampu menciptakan generasi yang mandiri, cerdas, serta berahklakul karimah

0 Comments: